Gambaran Penerapan Kerja Sama Operasional Model Cost Per Reportable Result (CPRR) Dibandingkan Pembelian Reagen Konvensional Pada Pemeriksaan Ureum Dan Kreatinin Di Laboratorium Rumah Sakit: Literature Review

Niniek Wiendayanthi, Dewi Purnamawati

Abstract


Abstrak
Latar Belakang: Laboratorium klinik merupakan unit penunjang strategis yang berkontribusi terhadap sebagian besar keputusan klinis di rumah sakit. Meningkatnya jumlah pemeriksaan laboratorium, khususnya ureum dan kreatinin, berdampak pada meningkatnya kebutuhan alat, reagen, dan biaya operasional. Kondisi tersebut mendorong rumah sakit menerapkan berbagai model pengadaan, di antaranya pembelian reagen secara konvensional dan Kerja Sama Operasional (KSO) dengan skema Cost Per Reportable Result (CPRR). Kedua model memiliki karakteristik yang berbeda dalam aspek investasi, pengelolaan logistik, pemeliharaan alat, dan pengendalian biaya sehingga perlu dikaji dari perspektif manajemen rumah sakit.
Tujuan: Menelaah dan mensintesis hasil penelitian mengenai penerapan KSO model CPRR dibandingkan pembelian reagen konvensional pada pemeriksaan ureum dan kreatinin serta mengidentifikasi implikasinya terhadap pengelolaan laboratorium rumah sakit.
Metode: Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan naratif yang disusun mengikuti prinsip PRISMA. Literatur diperoleh dari publikasi nasional dan internasional yang membahas CPRR, reagent rental, pengadaan alat laboratorium, unit cost laboratorium, dan manajemen laboratorium rumah sakit. Artikel dipilih berdasarkan kesesuaian topik, kualitas publikasi, dan relevansi terhadap tujuan kajian.
Hasil: Hasil sintesis menunjukkan bahwa model CPRR memberikan keuntungan berupa pengurangan investasi awal, kemudahan pemeliharaan alat, kepastian ketersediaan reagen, serta penyederhanaan pengelolaan operasional laboratorium. Sebaliknya, pembelian reagen konvensional memberikan keleluasaan dalam pengendalian aset dan fleksibilitas pemilihan pemasok, tetapi membutuhkan kapasitas manajemen logistik dan pemeliharaan yang lebih besar. Efektivitas masing-masing model dipengaruhi oleh volume pemeriksaan, kemampuan finansial rumah sakit, dan tata kelola laboratorium.
Kesimpulan: Tidak terdapat satu model pengadaan yang sesuai untuk seluruh rumah sakit. Pemilihan antara CPRR dan pembelian reagen konvensional perlu mempertimbangkan karakteristik organisasi, volume pemeriksaan ureum dan kreatinin, kapasitas pengelolaan laboratorium, serta strategi pengembangan layanan jangka panjang.
Kata kunci: Cost Per Reportable Result, kerja sama operasional, reagent rental, laboratorium klinik, ureum, kreatinin, manajemen rumah sakit.

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Afdhal, A. (2011). Analisis efektivitas biaya (Cost-Effectiveness Analysis) dalam pelayanan kesehatan. Jakarta: FKM UI.

Arikat, S., & Saboor, M. (2024). Evolving role of clinical laboratories in precision medicine: A narrative review. Journal of Laboratory and Precision Medicine, 9(17), 1–12.

Chaudhry, A. S., Inata, Y., & Nakagami-Yamaguchi, E. (2023). Quality analysis of the clinical laboratory literature and its effectiveness on clinical quality improvement: A systematic review. Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition, 73(2), 108–115.

Chhetri, V., Nima, N., Dophu, U., et al. (2021). Efficiency of reagent rental system in biochemistry services in Bhutan. Journal of Laboratory Studies, 34(4), 42–45.

Dewi, V. S. (2025). Perbandingan benefit cost analysis laboratorium dengan metode kerja sama operasional reagent rental dan cost per reportable result di RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Drummond, M. F., Sculpher, M. J., Claxton, K., Stoddart, G. L., & Torrance, G. W. (2015). Methods for the economic evaluation of health care programmes (4th ed.). Oxford University Press.

Gray, A. M., Clarke, P. M., Wolstenholme, J. L., & Wordsworth, S. (2011). Applied methods of cost-effectiveness analysis in health care. Oxford University Press.

Hariyati, R. T., & Ismawatie, E. (2024). Analisis efisiensi kerja sama per test pemeriksaan kimia klinik di RSU Aisyiyah Ponorogo. Plenary Health: Jurnal Kesehatan Paripurna, 1(3), 216–220.

Kania, N., Maliala, A., & Firman. (2019). Evaluasi biaya laboratorium dengan menggunakan CPRR dalam penerapan lean management di RS Pelni Jakarta.

Kenedi, J., Lanin, D., & Agus, Z. (2018). Analisis pengadaan alat kesehatan di RSUD Padang Pariaman. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(Suppl 2), 9.

Kulshrestha, M. R., et al. (2024). An approach to include the cost of consumables in biochemistry analyzer procurement on reagent rental model. EJIFCC, 35(3), 182–188.

Marini, E., & Rochmah, T. N. (2014). Cost benefit analysis laboratorium mandiri vs KSO. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 2(2), 120–128.

Meikaruniawati, S., Setiadi, A. S., & Handono, D. (2017). Evaluasi kerja sama operasional pengadaan alat laboratorium otomatis di RSCM.

Oasthttamadea, R., Manjas, M., & Yurniwati, Y. (2019). Analisis unit cost laboratorium dengan ABC. Jurnal Kesehatan Andalas, 8(2S), 8.

Palupi, D. K. (2015). Analisis tarif jasa laboratorium menggunakan activity-based costing.

Plebani, M. (2020). Clinical laboratory: Bigger is not always better. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine, 58(6), 865–868.

Rohmatullah, F., Pribadi, F., & Susanto. (2014). Analisis perbandingan pengadaan alat pemeriksaan darah di RS Nurhidayah.

Tri Hariyati, R., & Ismawatie, E. (2024). Analisis efisiensi kerja sama per test pemeriksaan kimia klinik.

Yusirwan. (2013). Analisis cost benefit investasi alat laboratorium Cobas C111.




DOI: https://doi.org/10.52643/marsi.v10i4.8965

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Web Analytics View My Stats